Langsung ke konten
Cyber Network Indonesia
Logo
Pilih Bahasa
Colocation Data Center: Kapan Perusahaan Perlu Pindah Server ke Luar?
Teknologi 4 kali dibaca

Colocation Data Center: Kapan Perusahaan Perlu Pindah Server ke Luar?

Banyak perusahaan masih menaruh server di ruang kecil di kantor. Awalnya terasa praktis. Tapi lama-lama muncul masalah: listrik sering naik turun, AC tidak cukup dingin, atau ruangnya jadi sempit karena rack bertambah.

Kalau sudah sampai situ, biasanya orang mulai bertanya: apa perlu pindah server ke data center? Atau lebih tepatnya, coba colocation?

Apa bedanya colocation dengan hosting biasa

Colocation itu sederhana. Kamu bawa sendiri server atau rack kamu, lalu sewa tempat di data center yang sudah siap. Listrik, pendingin, keamanan fisik, dan koneksi internetnya diurus pengelola. Kamu tetap pegang kendali penuh atas hardware dan software.

Bedanya dengan cloud atau hosting shared, di colocation mesinnya milik kamu. Jadi performanya bisa diatur sesuai kebutuhan, tidak berbagi resource dengan orang lain.

Tanda-tanda perusahaan sudah butuh colocation

Tidak semua bisnis perlu langsung pindah. Tapi ada beberapa tanda yang sering muncul:

  • Server sering overheat atau shutdown sendiri karena AC kantor tidak mampu.
  • Listrik padam berulang dan UPS tidak cukup tahan lama.
  • Tim IT sudah kewalahan urus fisik server, padahal seharusnya fokus ke aplikasi dan keamanan.
  • Perusahaan mulai punya data penting yang tidak boleh hilang atau bocor.
  • Kebutuhan bandwidth naik terus, tapi koneksi kantor masih terbatas.

Kalau dua atau tiga poin di atas sudah terasa, biasanya colocation jadi pilihan yang masuk akal.

Yang perlu dicek sebelum memilih lokasi colocation

Jangan cuma lihat harga per U. Ada beberapa hal yang lebih penting:

  • Tier data center. Tier III atau IV biasanya lebih stabil untuk bisnis yang butuh uptime tinggi.
  • Redundansi listrik dan pendingin. Pastikan ada backup generator dan sistem cooling yang dual.
  • Keamanan fisik. Akses berlapis, CCTV, dan prosedur masuk yang ketat.
  • Konektivitas. Ada berapa carrier yang masuk ke data center itu? Semakin banyak, semakin fleksibel.
  • Dukungan remote hands. Kalau server bermasalah jam 2 pagi, apakah ada teknisi yang bisa bantu?

CNI punya Data Center Colocation di fasilitas Tier IV ISC MPR Jakarta dan juga di NIX Bali. Banyak perusahaan yang sudah menaruh rack di sana karena uptime-nya stabil dan dukungan teknisnya responsif.

Bagaimana proses pindahnya

Prosesnya biasanya tidak serumit yang dibayangkan. Mulai dari survey kebutuhan daya dan ruang, lalu penentuan posisi rack, instalasi, sampai testing koneksi. Tim data center biasanya membantu remote hands saat migrasi biar downtime seminimal mungkin.

Yang penting, buat rencana migrasi yang jelas. Jangan pindah semua sekaligus kalau aplikasi kritis. Bisa bertahap.

Kesimpulan singkat

Colocation bukan soal gaya-gayaan. Ini soal menjaga server tetap hidup, data tetap aman, dan tim IT bisa fokus ke pekerjaan yang lebih strategis. Kalau infrastruktur di kantor sudah mulai membatasi pertumbuhan bisnis, saatnya pertimbangkan pindah ke data center yang memang dirancang untuk itu.

Kalau kamu sedang menimbang opsi colocation, layanan Data Center Colocation CNI di Jakarta dan Bali bisa jadi salah satu yang layak dicek. Mereka sudah berpengalaman lebih dari 18 tahun mengurus infrastruktur jaringan dan data center.

Bagikan artikel ini:
Konsultasi Solusi Gratis

Siap Meningkatkan Infrastruktur TI Anda?

Konsultasikan kebutuhan Anda. Tim kami siap membantu 24 jam, 7 hari seminggu.